Senin, 05 Januari 2015

soal UAS beserta jawaban qw

SOAL UAS

SEMESTER GASAL TAHUN AKADEMIK 2014/2015                                                            
Penguji          : Pratama S.B Kusuma
Mata Kuliah : Perilaku dan Budaya Organisasi Pendidikan                
Semester      : V (Lima)
Jurusan/Prodi : Tarbiyah/MPI                              Hari, Tgl : Rabo, 31 Desember 2014
________________________________________________________________________________________________

1.     Jelaskan pendapat anda bagaimana agar perbedaan pendapat tidak menjadi konflik yang berdampak negatif dalam manajemen organisasi pendidikan! Perbedaan pendapat itu sudah biasa dan maklum adanya, ketika terjadi perbedaan pendapat kita harus bisa menerima pendapat org lain, meskipun seandainya itu brtentangan dengan pendapat kita, sebagaimana para ulama’ juga sering berbeda pendapat akan tetapi itu tidak menjadikan masalah bagi mereka, bahkan perbedaan pendapat itu merupakan sebuah rahmat. Perbedaan pendapat itu tidak semuanya menjadikan konflik ataupun masalah, karena perbedaan pendapat itu tidak berarti perbedaan keinginan, sedangkan yang menjadikan konflik itu dikarenakan perbedaan keinginan.
2.     Dalam budaya prilaku dan organisasi terkadang stres perlu diciptakan, jelaskan pendapat saudara! Stres boleh diciptakan ketika memiliki dampak yang positif, dan bisa mndorong kita supaya lebih baik, saya setuju dengan pendapt ini, karena itu merupakan salah satu cara agar kita semangat dan menjadi lebih baik.
3.     Kualitas kehidupan kerja dan kinerja dalam organisasi dikenal istilah Job Enrichment (peningkatan pekerjaan) dan job enlargement (pemekaran pekerjaan), menurut anda apa resiko yang muncul dalam penerapak kedua usaha tersebut jika diterapkan pada organisasi pendidikan Islam? Resiko ketika keduanya diterapkan dalam organisasi maka seseorang tersebut akibatnya tidak memiliki komitmen dalam dirinya, kemudian ketika job enlargement diterapkan seharusnya dapat menambah kesenangan untuk bekerja tapi tidak diwajibkan memberikan pada pekerja tanggungjawab yang lebih. Lalu apabila job enrichment itu diterapkan kita harus menimbang apakah karyawan atau pekerja tersebut itu benar-benar mampu dan memiliki keahlian dalam bidang tersebut. Karena kalau tidak memiliki keahlian dalam bidang tersebut akan memilki dampak yang buruk bagi organisasi. Lalu job enrichment ini juga akan membuat karyawan yang lain merasa tidak adil apabila memilihnya atau merekrutnya tanpa adanya proses perekrutan. Pasti mereka akan beranggapan dia direkrut dikarenakan adanya koneksi dari orang dalam.
4.     Menurut anda apa yang menyebabkan lembaga pendidikan Islam mengalami hambatan dalam Pengembanganan Organiasi? Bagaimana Solusinya? Dikarenakan dalam lembaga tersebut tidak menginginkan adanya perubahan, sedangkan pengembangan organisasi itu tidak akan bisa lepas dengan namanya perubahan, adakalanya perubahan tersebut ke arah positif ataupun negatif.
Solusinya ketika seseorang itu ingin agar lembaganya bisa berkembang maka janganlah takut adanya perubahan.
5.     Saat zaman terus berganti lingkungan ikut berubah membawa dampak pada perilaku dan budaya organisasi termasuk lembaga pendidikan Islam. Tetapi jika dipandang dalam sudut pandang yang lebih luas budaya organisasi memang perlu dirubah agar lebih bermutu. Jelaskan pendapat anda, mengingat tidak semua budaya yang lama buruk (membawa kemunduran organisasi) begitu pula sebaliknya. Perubahan budaya organisasi terkadang memiliki pengaruh positif terhadap efektifitas dan kinerja organisasi. Namun terkadang juga dapat menurunkan kinerja atau efektifitas organisasi apabila perubahan budaya organisasi tidak direncanakan dan dikelola dengan baik. Proses terbentuknya budaya membutuhkan beberapa orang pendiri, yaitu orang yang di anggap berpengaruh atau karismatik. Setelah budaya organisasi tertentu, makanya seharusnya budaya organisasi itu dipertahankan, sebagaimana keterangan dalam soal diatas bahwa tidak semua budaya lama itu buruk. Jika terjadi perubahan budaya organisasi maka harus mampu menganalisis mana diantara budaya lama dengan budaya baru yang lebih bermutu dan lebih baik.
6.     Aturan yang tegas dan jelas, Reward (ganjaran,hadiah,upah) and Punishment (hukuman, siksaan) dapat berjalan, serta budaya organisasi yang baik sudah cukup membawa organisasi dalam kemajuan sehingga tidak begitu diperlukan oleh seorang kepala sekolah untuk memahami perilaku organisasi dalam organisasi kependidikan yang dia pimpin. Bagaimana menurut anda?
Meskipun demikian seorang pemimpin/kepala sekolah tetap harus memahami dan mempelajari perilaku organisasi dalam organisasi yang dia pimpin karena itu akan memudahkan bagi seorang manajer/pemimpin untuk mengidentifikasi permasalahan, menentukan bagaimana cara memperbaiki (koreksi) dan mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi. Juga dapat mengoptimalkan kinerja bawahan, karena dengan mengetahui perilaku organisasi, pemimpin itu akan mengetahui apa motivasi pegawainya dalam bekerja, naah dengan mengetahui motivasi bawahan, pemimpin akan bisa rangsang sehingga pegawai tersebut bisa termotivasi dan pada akhirnya memiliki kinerja yang baik.
7.     Amati lembaga pendidikan di sekitar Kampus STAI Al Fithrah, lakukan analisis hingga berikan kesimpulan dengan mengacu pada 6 teori yang muncul pada pertanyaan di atas (1 – 6). Menurut saya di STAI al fithrah sudah mengalami perkembangan dari tahun ke tahun terbukti dengan bertambahnya mahasiswa akan tetapi ini hanya pada jurusan MPI mengenai jurusan yang lain yakni TS dan TH saya rasa mengalami penurunan dari segi bertambahnya mahasiswa. Bahkan bentar lagi akan lahir jurusan baru, meski belum terwujud sekarang tapi akan. Analisis saya yang mengacu pada 6 pertanyaan diatas adalah:
1.     Dalam sebuah organisasi sudah maklum adanya perbedaan pendapat bahkan di STAI al fithrah sekalipun. Tapi yang jadi perhitungan adalah bagaimana agar bisa menerima pendapat orang lain meskipun itu dari bawahan.
2.     Saya setuju jika stres diterapkan di STAI al fithrah, supaya mereka-mereka yang terkadang acuh tak acuh ketika bersalah jadi benar-benar menyadarinya dan ingin memperbaikinya.
3.     Mengenai job enrichment dan job enlargement saya rasa disini sudah berjalan seperti itu, mungkin salah satu faktornya adalah karena kurangnya SDM, sehingga terkadang TU merangkap jadi dosen, kemudian dosen juga merangkap dua mata pelajran atau lebih.
4.     STAI al fithrah akan susah dalam pengembangan organisasi dikarenakan salah satu faktornya, masih terikat dengan pondoknya yakni semuanya pasti dihubungkan dengan pondok, kemudian orang-orang dalam STAI itu juga kebanyakan dari orang dalam pesantren, sehingga akan sulit untuk berkembang karena kurangya kemandiriannya.
5.     Untuk budaya organisasi di STAI juga tidak ada perubahan dikarenakan sebagaimana alasan pada nomer 4.
6.     Aturan di STAI saya rasa tidak tegas seperti memakai almamater tiap akan masuk kuliyah tapi disini tidak berjalan sebagaimana mestinya, karena kurangnya tegas dan jelas aturan juga tidak adanya sanksi yang diberlakukan bagi si pelanggar.
Oleh karena pemimpin tetap harus bisa mengetahui dan memahami perilaku organisasi dalam organisasi kependidikan yang dia pimpin, meskipun seandainya semuanya sudah terpenuhi.


Jawaban dikumpulkan melalui email : silaturahmiku@yahoo.com paling lambat hari Rabo, 31 Desember 2014 Pukul: 13.30 WIB. Tidak ada toleransi dalam keterlambatan pengiriman, meskipun 1 menit.

Sabtu, 06 Desember 2014

manajemen strategi sekolah

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Manajemen Berbasis Sekolah merupakan satu bentuk agenda reformasi pendidikan di Indonesia yang menjadi sebuah kebutuhan untuk memberdayakan peranan sekolah dan masyarakat dalam mendukung pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Secara esensial Manajemen Berbasis Sekolah menawarkan diskursus ketika sekolah tampil secara relatif otonom, dengan tidak mereduksi peran pemerintah, terutama dalam bidang pendanaan.
Hal tersebut tentunya akan berakibat pada mutu pendidikan. Apabila mutu pendidikan hendak diperbaiki, maka perlu ada pimpinan dari para profesional pendidikan. Manajemen mutu merupakan sarana yang memungkinkan para profesional pendidikan dapat beradaptasi dengan kekuatan perubahan yang akan bermuara pada sistem pendidikan bangsa kita. Dan lebih jelasnya kami akan membahasnya dalam makalah kami.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa itu manajemen strategi sekolah?
2.       Bagaimana Penggunaan Manajemen Berbasis Sekolah dalam Peningkatan Mutu?
3.   Penerapan apakah yang digunakan  Model MBS Meningkatkan Mutu Sekolah?








BAB II
PEMBAHASAN
A.    Manajemen Strategi Sekolah
menurut Yuwono dan Ikhsan (2004:1) biasanya dihubungkan dengan pendekataan manajemen yang integratif yang mengedepankan secara bersama-sama seluruh elemen seperti planning, implementing, dan controling dari strategi bisnis. Dalam manajemen strategik pada dunia pendidikan menggunakan konsep strategik untuk lebih mengefektifkan pengalokasian sumber daya yang ada dalam pencapaian tujuan pendidikan.  Ansof  berpendapat bahwa, manajemen strategik ialah suatu pendekatan yang sistematis bagi suatu tanggung jawab manajemen, mengondisikan organisasi ke posisi yang dipastikan mencapai tujuan dengan cara yang akan meyakinkan keberhasilan yang berkelanjutan dan membuat perusahaan (sekolah) menjamin atau mengamankan format yang mengejutkan.
Manajemen strategik khususnya pada strategi kebijakan dapat dilakukan jika keputusan merupakan keputusan bersama, bukan keputusan sepihak dan keputusan itu dipilih dari alternatif terbaik. Konsep strategik ini melibatkan secara langsung semua manager di semua level dalam planning dan implementasinya. (dalam sekolah meliputi : kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, konselor, tenaga kependidikan,wali kelas dan personal kelas).
Menurut Pearce dan Robinson (1991:9) manajemen strategik memiliki keuntungan :
1.      Kegiatan formulasi strategi memperkuat kemampuan sekolah menghindari masalah
2.      Keputusan strategik berdasarkan kelompok niscaya merupakan keputusan alternatif terbaik
3.      Keterlibatan pegawai dalam memformulasikan keputusan akan meningkatkan pemahaman mereka dan meningkatkan motivasi dalam bekerja.
Manajemen strategis dalam manajemen sekolah adalah suatu pendekatan yang sistematik dalam menyelenggarakan programnya untuk mencapai tujuan sekolah. Unsur-unsur strategi dalam manajemen sekolah bertitik tolak pada ruang lingkup atau batasan di mana sekolah itu bergerak, menetapkan mutu layanan belajar, mutu lulusan yang dihasilkan, memenuhi keinginan masyarakat akan mutu pendidikan yang diselenggarakan di sekolah. Bagaimana posisi majemen strategik dan implementasi strategik dalam manejemen strategik dapat dilihat dalam skema :[1]
Perumusan Visi dan Misi Asesmen Lingkungan Perumusan Tujuan Khusus Penentuan Strategi.
1.      Perumusan Misi yaitu pencitraan bagaimana sekolah seharusnya bereksistensi
2.      Asesmen lingkungan eksternal yaitu mengakomodasi kebutuhan lingkungan akan mutu pendidikan yang dapat disediakan oleh sekolah
3.      Asesmen organisasi yaitu merumuskan dan mendayagunakan sumberdaya sekolah secara optimal
4.      Perumusan tujuan khusus yaitu penjabaran dari pencapaian misi sekolah yang ditampakan dalam tujuan tiap-tiap mata pelajaran
5.      Penentuan strategi yaitu memilih strategi yang paling tepat untuk mencapai tujuan yang ditetapkan dengan menyediaka anggaran, sarana dan prasarana maupun fasilitas yang dibutuhkan untuk itu.
Perumusan Visi dan Misi Asesmen Lingkungan Eksternal Proses Formulasi Strategi
1.      Visi dan Misi sekolah
            Visi sekolah adalah sebuah agenda tujuan sebagai prestasi yang harus dicapai dalam aktivitas sekolah. Dalam konteks sekolah visi dirumuskan oleh jajaran sekolah dalam rapat kerja yang finalnya dirumuskan oleh pejabat terkait dalam sekolah. Dengan demikan visi sekolah adalah agenda tujuan yang terdiri dari dorongan, ruang lingkup, persyaratan, prioritas, implikasi, tindakan, kecakapan atau kemampuan melihat dan memahami untuk berimajinasi dalam mempersiakan masa datang.[2]
             Misi sekolah adalah aspirasi kepala sekolah, guru tenaga kependidikan, dan masyarakat sekolah lainnya yang akan dijadikan elemen fundamental penyelenggaraan program sekolah dalam pandangan sekolah dengan alasan yang jelas dan konsisten dengan nilai-nilai sekolah.
2.      Tujuan dan Target sekolah
            Tujuan sekolah dilihat dari sudut manajemen strategik adalah memberikan pengarahan dengan cara menggambarkan keadaan masa akan datang yang menghasilkan kesepakatan umum merupakan sumber legitimasi yang membenarkan setiap kegiataan sekolah mengenai misi dalam menentukan bidang kerja, macam dan volume pekerjaan yang harus dilakukan dan senantiasa berusaha dikejar dan diwujudkan oleh sekolah, serta eksistensi sekolah itu sendiri.
3.      Penentuan strategi Organisasi Sekolah
            Ada 2 tingkatan dalam strategi organisasi dalam majemen bisnis :
a.       Sociental adalah bagaimana organisasi bermaksud untuk berfungsi sebagai anggota dekat komunitas, masyrakat, negara, dan komunitas global.
b.      Strategi Corporate yang diterapkan dalam manajemen sekolah dirancang untuk menerapkan strategi sekolah dalam mencapai tujuan sesuai visi misi sekolah
4.       Implementasi strategi Organisasi Sekolah
            Proses implementasi strategi manajemen sekolah meliputi keseluruhan kegiatan manajerial yang mencakup keadaan seperti motivasi, kompensasi, penghargaan manajemen, dan proses pengawasan.
            Menurut Schendel dan Hofer, implementasi dicapai melalui alat administrasi, yakni :
a.       Struktur, yaitu siapa yang bertanggung jawab terhadap apa, kepala sekolah bertanggung jawab kepada siapa.
b.      Proses, yaitu bagaimana tugas dan tanggung jawab itu dikerjakan masing-masing personal
c.       Tingkah laku yaitu prilaku yang menggambarkan motivasi, semangat kerja, penghargaan, disiplin, etika dan seterusnya.
B.     Penggunaan Manajemen Berbasis Sekolah dalam Peningkatan Mutu
Arti dan Makna Manajemen Berbasis Sekolah Di Amerika menurut Edward E. Lawler (1994) dengan penerapan model Manajemen Berbasis Sekolah ternyata dapat meningkatkan kualitas belajar-mengajar, disebabkan adanya mekanisme yang lebih efektif dan lebih cepat dalam pengambilan keputusan, memberikan dorongan semangat kinerja baru sebagai motivasi berprestasi para kepala sekolah dalam melakukan tugasnya sebagai manajer sekolah. Manajemen berbasis sekolah diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah , sehingga rasa memiliki warga sekolah dapat meningkat yang mengakibatkan peningkatan rasa tanggung jawab dan dedikasi warga sekolah.
      Manajemen berbasis sekolah diselenggarakan melalui beberapa model, yaitu :[3]
1.      Peningkatan Peranan Guru
2.      Peningkatan wawasan penggelolaan pengajaran melalui studi penelitian dan kajian pustaka
3.      Penyamaan visi semua pihak dalam proses perubahan untuk memfokuskan arah baru merealisasikan penyelenggaran program dengan sistem manajemen berbasis sekolah.
            Model MBS menurut Eric Digest (1995) menggemban dua dimensi pemahaman, yaitu :
1.      The goverance reform in school management yaitu menyangkut reformasi dalam manajemen sekolah, menyangkut pentingnya membangun otonomi sekolah untuk merespon aspirasi stakeholdernya.
2.      An overall push for curruculum and instructional reform yaitu menyangkut reformasi pengemban kurikulum dan pengajaran, terbukanya peluang bagi pengembangan inovasi dalam proses belajar mengajar.
Tujuan Penerapan (MBS) Model Manajemen Berbasis sekolah mewujudkan tata kerja yang lebih baik dalam 4 hal, yakni : [4]
1.      Meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya dan penugasan staf
2.      Meningkatkan profesionalisme guru dan tenaga kependidikan di sekolah
3.      Munculnya gagasan-gagasan baru dalam implementasi kurikulum, penggunaan teknologi pembelajaran, dan pemanfaatan sumber-sumber belajar
4.      Meningkatnya mutu partisipasi masyarakat dan stakeholder Prinsip dan Esensi MBS Prinsip umum yang patut menjadi pedoman dalam pelaksanaan model manajemen berbasis sekolah.
 menurut Satori (2001:7) [5]
1.                Memiliki visi misi dan strategi ke arah pencapaian mutu pendidikan , khususnya mutu peserta didik sesuai dengan jenjang sekolah masing-masing
2.                Berpijak pada power sharing (berbagi kewenangan), pengelolaan pendidikan sepatutnya berlandaskan pada keinginan saling mengisi, saling membantu dan menerima berbagai kekuasaan/kewenangan sesuai fungsi dan peran masing-masing.
3.                Adanya profesionalisme semua bidang dan berbagai komponen baik para praktisi pendidikan, pengelola, dan manager pendidikan lainnya termasuk profesionalisme Dewan Pendidikan di kabupaten/kota maupun Komite Sekolah di satuan Pendidikan
4.                Meningkatkan partisipasi masyarakat yang kuat termasuk orang tua peserta didik.
5.                Komite sekolah sebagai institusi dapat menopang keberhasilan visi dan misi sekolah
6.                Adanya transparasi dan akuntabilitas manajemen sekolah baik dilihat dari akuntabilitas manajemen maupun akuntabilitas finansial.
Manajemen berbasis sekolah mempunyai esensi yaitu pada hakekatnya sekolah memiliki kewenangan (otonomi) yang lebih besar dalam mengelolah sekolah tetapi bukan egois apalagi arogan, sehingga sekolah tersebut lebih mandiri, inovatif dan kreatif.
Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah : [6]
1.      Prestasi Belajar dan manajemen sekolah yang efektif
2.      Kepemimpinan sekolah yang visioner dan berjiwa enterpreneuship
3.      Menempatkan kewenangan yang bertumpu pada sekolah dan masyarakat
4.      Senantiasa melakukan perubahan ke arah yang lebih baik
5.      Melakukan analisis kebutuhan, perencanaan, pengembangan, dan evalusi kinerja sesuai visi misi untuk mencapai tujuan dan target sekolah
6.      Kesejahteraan personal sekolah yang cukup
7.      Pengelolaan dan penggunaan anggaran yang tepat sasaran dan dapat dipertanggung jawabkan
C.     Penerapan Model MBS Meningkatkan Mutu Sekolah
1.      Mutu sekolah yang berkenaan dengan penilaian bagaimana suatu produk memenuhi kriteria, standar atau rujukan tertentu. 
                    Dalam dunia pendidikan, standar tersebut menurut Depdiknas (2001:2) dapat dirumuskan melalui hasil belajar mata pelajaran skolastik yang dapat diukur secara kuantitatif, dan pengamatan yang bersifat kualitatif, khususnya untuk bidang-bidang pendidikan sosial. Mutu pendidikan harus dipayakan untuk mencapai kemajuan yang dilandasi oleh suatu perubahan terencana.
             Peningkatan mutu pendidikan diperoleh melalui dua strategi yaitu : [7]
a.       peningkatan mutu pendidikan yang berorientasi akademis untuk memberi dasar minimal dalam perjalanan yang harus ditempuh mencapai mutu pendidikan yang dipersyaratkan oleh tuntutan zaman
b.      Peningkatan mutu pendidikan yang berorientasi pada keterampilan hidup yang esensial yang dicakupi oleh pendidikan berlandas luas, nyata dan bermakna.
Sekolah dapat dikatakan bermutu apabila prestasi sekolah khususnya prestasi didik menunjukan pencapaian yang tinggi dalam :
1)      Prestasi akademik yaitu nilai rapor dan nilai kelulusan memenuhi standar yang ditentukan.
2)      Memiliki nilai-nilai kejujuran, ketaqwaan, kesopanaan, dan mampu mengapresiasi nilai-nilai budaya
3)      Memiliki tanggung jawab yang tinggi dan kemampuan yang diwujudkan dalam bentuk keterampilan sesuai dasar ilmu yang diterimanya disekolah
2.      Indikator Keberhasilan
Indikator Keberhasilan akan berdampak dari berbagai aspek, yaitu : [8]
a.       Efektifitas proses pembelajaran bukan sekadar transfer pengetahuan atau mengingat dan menguasai pengetahuan tentang apa yang diajarkan melainkan lebih menekankan kepada internalisasi mengembangkan aspek-aspek kognitif, afektif, psikomotor dan kemandirian
b.      Kepemimpinan kepala sekolah yang kuat, merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk mewujudkan visi, misi tujuan, sasaran melalui program yang dilaksanakan secara berencana , bertahap, kreativitas, inovasi, efektif dan mempunyai kemampuan manajerial
c.       Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif: guru merupakan salah satu faktor yang strategis pada satu sekolah sekolah, dituntut untuk mempunyai kreativitas dan keuletan dalam menggelola proses pembelajaran untuk menjadikan peserta didik aktif, dan kreatif melalui pengembagan KBK.
d.      Sekolah memiliki teamwork yang kompak, cerdas dan dinamis; kebersamaan merupakan karakteristik sekolah, karena out put pendidikan hasil kolektif warga sekolah bukan hasil individual menjadi persyaratan penting untuk memperoleh mutu yang kompetetif. Sekolah memiliki kemandirian , yaitu sekolah mempunyai kemampuan dan kesanggupan kerja secara maksimal dan tidak selalu bergantung pada petunjuk atasan dan harus mempunyai sumber daya potensial dan yang berkompeten di bidangnya masing-masing











BAB III
KESIMPULAN
1.      Manajemen strategis dalam manajemen sekolah adalah suatu pendekatan yang sistematik dalam menyelenggarakan programnya untuk mencapai tujuan sekolah.
2.      a. Peningkatan Peranan Guru
b. Peningkatan wawasan penggelolaan pengajaran melalui studi penelitian dan kajian pustaka
c. Penyamaan visi semua pihak dalam proses perubahan untuk memfokuskan arah baru merealisasikan penyelenggaran program dengan sistem manajemen berbasis sekolah.
3.      a. Mutu sekolah yang berkenaan dengan penilaian bagaimana suatu produk memenuhi kriteria, standar atau rujukan tertentu.
b.Indikator Keberhasilan












DAFTAR PUSTAKA
Barner, Tony. 1998. Kaizen Strategies for Successful Leadership (Kepemimpinan Sukses). Jakarta: Interaksara.
Danim, Sudarwan. 2007. Visi Baru Manajemen Sekolah: Dari Unit Birokrasi Ke Lembaga Akademik. Jakarta: Bumi Aksara
Nurkolis. 2003. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: Grasindo.
Arcaro, Jarome S. 2006. Pendidikan Berbasis Mutu: Prinsip-prinsip Perumusan dan Tata Langkah Penerapan. Yogyakarta.
Bafadal, Ibrahim. 2003. Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah Dasar, dari Sentralisasi menuju Desentralisasi. Jakarta: Bumi Aksara
Fattah, Nanang, (2004). Konsep Manajemen Berbasis Sekolah dan Dewan Sekolah.  Bandung: CV Pustaka Bani Quraisy.
Murniati, (2008). Manajemen Stratejik. Peran Kepala Sekolah Dalam Pemberdayaan. Bandung: Citapustaka Media Perintis.
Sagala, Syaiful, (2006). Manajemen Berbasis Sekolah dan Masyarakat: Strategi Memenangkan Persaingan Mutu. Jakarta: PT Nimas Multima)



                       
























[1] Barner, Tony. 1998. Kaizen Strategies for Successful Leadership (Kepemimpinan Sukses). Jakarta: Interaksara. Hal.75
[2] Danim, Sudarwan. 2007. Visi Baru Manajemen Sekolah: Dari Unit Birokrasi Ke Lembaga Akademik. Jakarta: Bumi Aksara.hal. 160
                               
[3] Nurkolis. 2003. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: Grasindo.hal, 137
[4] Arcaro, Jarome S. 2006. Pendidikan Berbasis Mutu: Prinsip-prinsip Perumusan dan Tata Langkah Penerapan. Yogyakarta. Hal. 170

[5] Bafadal, Ibrahim. 2003. Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah Dasar, dari Sentralisasi menuju Desentralisasi. Jakarta: Bumi Aksara hal. 78
[6] Fattah, Nanang, (2004). Konsep Manajemen Berbasis Sekolah dan Dewan Sekolah.  Bandung: CV Pustaka Bani Quraisy. Hal,34

[7] Murniati, (2008). Manajemen Stratejik. Peran Kepala Sekolah Dalam Pemberdayaan. Bandung: Citapustaka Media Perintis.hal, 99
[8] Sagala, Syaiful, (2006). Manajemen Berbasis Sekolah dan Masyarakat: Strategi Memenangkan Persaingan Mutu. Jakarta: PT Nimas Multima), hal,56